Relasi Agama dan Politik


NESIAPOS – Oleh: Ahmad Soleh*

Memasuki tahun politik, ada isu yang menarik untuk kembali ditayangkan di muka dan menjadi perbincangan. Yakni tentang bagaimana sebenarnya relasi agama dengan politik. Sebelum membahas lebih dalam, bisa kita kembali mereviu ke tahun-tahun politik sebelumnya, di mana agama kerap dijadikan alat untuk mengais massa politik.

Hal demikian tak jarang menimbulkan kekisruhan yang tak berkesudahan. Masyarakat yang berkeyakinan terhadap agama kerap terjebak dalam diksi, simbol, dan jargon-jargon agamis yang ditampilkan para politikus yang hendak mencari suara rakyat. Padahal, pada saat yang sama, mereka juga mengkhianati agama itu sendiri, dengan melakukan dusta demi dusta, korupsi, dan janji-janji yang terus diingkari.

Masyarakat kita kerap mengalami kebingungan mengenai politik identitas dan bagaimana mendudukkannya dalam praktik berpolitik. Politik identitas kerap dibenturkan dan sengaja disarukan dengan identitas politik. Pemahaman yang pada akhirnya bisa menyesatkan. Hal ini semestinya menjadi tugas parpol dan politikus untuk menjernihkannya.

Identitas politik adalah keyakinan yang mendasari pilihan politik berdasarkan kesadaran. Jadi, pilihan yang didasari pada identitas politik, merupakan sesuatu yang sah dan dilindungi oleh asas demokrasi. Alasan-alasan rasional dan logis juga tak ditanggalkan dalam meneguhkan identitas politik ini.

Bila pilihan-pilihan itu dipilih dengan landasan agama, maka hal ini sah untuk dilakukan. Sebab, dalam politik, agama atau identitas apa pun bisa dijadikan landasannya. Agama dan identitas lainnya, kesukuan misalnya, merupakan sesuatu yang bersifat privat. Berada pada ranah pribadi seseorang. Memilih dengan landasan agama itu boleh, yang tidak boleh adalah mendiskriminasi orang lain atas nama agama.

Artinya, dalam identitas politik, kita tidak mengedepankan munculnya simbol-simbol. Melainkan pilihan-pilihan yang lahir karena kelogisan dan kerasionalan dan pertimbangan emosional lainnya. Intinya, identitas di sini menjadi inti, core, dalam menentukan sikap ataupun pilihan.

Sementara politik identitas merupakan upaya memperalat identitas untuk kepentingan politik belaka. Artinya, posisi identitas di sini hanya menjadi cangkang, bukan substansi. Dalam poin ini, identitas kerap dijadikan alat untuk mendiskriminasi pihak lain yang dianggap tidak sesuai dengan identitas itu.

Selain itu, bisa kita tebak layaknya tebak-tebak berhadiah, dalam politik identitas, apa pun yang muncul dalam simbol hanyalah gimik belaka. Kita lihat saja bagaimana di masa-masa kampanye ini akan ada tokoh-tokoh politik yang tiba-tiba gemar berbaju agamis ataupun keluar masuk rumah ibadah.

Selain itu, akan tampil pula simbol-simbol di media sosial maupun layar kaca. Dengan begitu mereka berharap bisa mendapat atensi dari masyarakat kita yang memang juga mudah diperdaya ketika segala sesuatu dibungkus dengan diksi-diksi, jargon, dan simbol agama.

Gimik politik lewat simbol agama memang bukanlah barang baru. Sudah sejak lama agama dijadikan alat. Meskipun ada juga catatan sejarah yang mencatat bagaiaman spirit agama itu benar-benar muncul dan menghasilkan perubahan.

Agama sejatinya memberikan energi positif yang mampu bertransformasi memberikan perubahan sosial di tengah masyarakat. Entah melalui kebijakan, program, sikap, maupun keputusan. Namun, ketika terjadi politisasi agama, yang menjadi masalah adalah agama menjadi sangat dangkal karena hanya dijadikan sebagai bungkus saja. Sementara nilai-nilai agama tidak sama sekali tecermin dalam perilaku dan kebijakan-kebijakan yang dilahirkan setelah ia mendapat posisi yang diinginkan.

Barangkali, sampai di sini kita perlu kembali memperteguh relasi agama dan politik, di mana agama bukanlah baju bagi politik. Agama bukanlah bungkus yang menawan agar politik laku dijual di khalayak. Agama bukan hiasan. Agama merupakan inti ajarannya. Landasan pijaknya. Bagaimana nilai-nilai luhur dalam ajaran agama dapat terwujud tanpa tapi dalam kehidupan bangsa.

Jadi, sebagai masyarakat pula kita harus menjadi lebih cerdas untuk melihat mana yang menjadikan agama sebagai substansi, mana yang beragama hanya sebagai gimik dan intrik saja. Namun, tampaknya hal itu akan susah sekali rasanya. Semoga saja tidak demikian.

*Pengamat Bunga-Bunga

0 Komentar